Surat Edaran BPOM

Surat edaran in didapat dari sebuah milis, menyusul adanya berita yang menyatakan sejumalah produk ternama pasta gigi, shampoo, dan sabun mengandung formalin (formaldehyde).

Namun, surat edaran ini belum ter-update di www.pom.go.id
jadi ke-absah-annya, belum dapat dipastikan.


Jakarta, 10 Agustus 2007

Kepada Yth:
1. Kepala Dinas Kabupaten kota
Melalui Kepala Balai Besar/ Balai POM RI
2. Pemimpin Media Cetak dan Media Elektronik
Di
Seluruh Indonesia

SURAT EDARAN
Nomor: KH.02.01.1.5344
Tentang
Formaldehid Dalam Sediaan Kosmetik

Sehubungan dengan adanya berita di media massa tentang formalin dalam
kosmetik (pasta gigi, shampoo, dll) maka dengan ini diinformasikan
kepada masyrakat sebagai berikut:

1. Penggunaan formalin atau formaldehid dalam kosmetik sebagai pengawet
diizinkan dengan kadar maksimal 0,1% untuk sediaan higiene mulut (pasta
gigi), 0,2% untuk sediaan kosmetik lainnya, formalin dilarang digunakan
pada sediaan aerosol.
2. Ketentuan tersebut di atas sesuai dengan aturan yang berlaku secara
internasional seperti pada ASEAN Cosmetic Directive dan European Union
(EU) Directive juga SK Ka Badan POM No HK.00.05.4.1745 tahun 2003
tentang kosmetik.

Demikian untuk dapat diketahui sebagaimana mestinya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan
Kepala
ttd
Dr. Husniah R. Thamrin Akib MS.MKes.Sp.FK
NIP 140 071 537

e-Mail HOAX: Danger of Lipstick!!!

Dari penelusuran saya di internet, saya mendapati fakta:
Pertama: Tidak ada Dr. Nahid Neeman di St Sinai Hospital, Toronto
Kedua: beberapa versi e-mail sejenis sudah beredar sejak bertahun-tahun yang lalu
Ketiga: e-mail ini HOAX belaka.
Keempat: Gold Ring Test tidak akan mendetect Lead (timbal), secara emas ini adalah logam mulia yang sukar bereaksi.
Kelima: Timbal (Lead) tidak menyebabkan kanker
Keenam: Website Walter Reed Army Medical Center http://www.wramc.amedd.army.mil/ tidak memuat info ini.
Ketujuh: Biar aman, gunakan selalu produk kosmetik yang berbahan dasar alami, dan tentunya yang ingredients-nya tertulis jelas. klik di sini

Artikel lan yang menyatakan e-mail di atas HOAX dapat dilihat di sini

Read throughly:

Something to consider next time you go shopping for lipstick.
This comes from someone who works in the breast cancer unit at Mt. Sinai Hospital , in Toronto.
From: Dr. Nahid Neman

If there is a female you care anything about, share this with her. I did!!!!!

I am also sharing this with the males on my email list, because they need to tell the females THEY care about as well!

Recently a lipstick brand called “Red Earth” decreased their prices from $67 to $9.90. It contained lead. Lead is a chemical which causes cancer.
The lipstick brands that contain lead are:
CHRISTIAN DIOR
LANCOME
CLINIQUE
Y.S.L
ESTEE LAUDER
SHISEIDO
RED EARTH (Lip Gloss)
CHANEL (Lip Conditioner)
MARKET AMERICA-MOTNES LIPSTICK.

The higher the lead content, the greater the chance of causing cancer. After doing a test on lipsticks, it was found that the Y.S.L. lipstick contained the most amount of lead.

Watch out for those lipsticks which are supposed to stay longer. If your lipstick stays longer, it is because of the higher content of lead.

Here is the test you can do yourself:
1. Put some lipstick on your hand.
2. Use a Gold ring to scratch on the lipstick.
3. If the lipstick colour changes to black, then you know the lipstick contains lead.

Please send this information to all your girlfriends, wives and female family members.

This information is being circulated at Walter Reed Army Medical Center
Dioxin Carcinogens cause cancer, especially breast cancer.

Beberapa artikel yang menyatakan e-mail di atas HOAX dapat dilihat di sini

Bantahan e-Mail HOAX: Danger of Lipstick

artikel pertama
Comments: False. This fear-mongering email is long on misinformation and short on verified facts. Laboratory tests have shown that some name-brand lipsticks sold in the U.S. do contain trace amounts of lead from the dyes used in their manufacture, but the lead content of these coloring agents is strictly controlled by the Food & Drug Administration to meet currently accepted safety standards and pose no serious health threat, according to a statement from the American Cancer Society.

Moreover, the message is both inaccurate and misleading when it implies that cancer is the main health hazard posed by lead exposure. Though it is indeed listed by the U.S. Environmental Protection Agency as a probable human carcinogen, lead has other, more direct health effects — including brain damage, nerve disorders and reproductive problems — that are far more worrisome.

Gold ring test will not detect lead in lipstick

The handy home test for lead in lipstick touted in the email is bogus. Certain metals, including gold, may leave a dark streak when scratched on various surfaces, but this is an artifact of the metals themselves, not an indicator of a chemical reaction with lead or any other substance.

For accurate information on known and suspected health hazards associated with cosmetic products and ingredients, see the Cosmetics section of the FDA Website.

Update: A new version of this message circulating since September 2006 contains the additional claim that the material was authored by a Dr. Nahid Neman of the breast cancer unit of Mt. Sinai Hospital in Toronto. No such person exists.

March 2006 statement from Cancer Research U.K.:

The email appears to be one of the many hoax emails claiming that a variety of everyday products can cause cancer. We’ve had deodorant, shampoo, washing up liquid and now lipstick. None of these claims are true and just spread alarm unnecessarily.

December 2005 statement from the American Cancer Society:

Rumor:
In May 2003, an email began making the rounds claiming that many of the most popular lipsticks on the market contain lead and will cause cancer. The email then offers a way to test lipsticks to see if they have lead.
Fact:
A search of the U.S. Food and Drug Administration Web site finds that lead content of coloring agents used in lipstick is regulated by that agency, and that the levels permitted are not a health problem.

artikel lain

Cara Cerdik Belanja Kosmetik

Tahu jenis kosmetik yang bisa dibeli murah dapat menghemat banyak. Berikut panduan umum

BOLEH BELI YANG MAHAL

  • Alas bedak dan concealer Harga yang lebih mahal (merk bergengsi) lebih banyak mengandung pigmen yang tampak alamiah.
  • Perona mata Butiran bedak dari formula yang bermutu cukup halus sehingga dapat menghasilkan olesan yang sangat lembut. Warnanya lebih tahan laa dan tetap cerah tanpa menggumpal
  • Lipstik yang mahal dan bermerk sering mengandung lebih banyak pigmen sehingga warna menempel lebih lama pada bibir.
  • Kuas atau Brush Kit Siapkan dana lebih untuk kuas ukuran penuh, kuas yang mudah dipegang untuk make-up yang paling sering digunakan seperti alas bedak, perona pipi, perona mata, dan eye liner. Pilih kuas dari bulu sintetik yang tidak akan membuat bakteri terus menempel.
  • BOLEH BERHEMAT

  • Maskara Ingredient hanya sedikit berbeda dari merk satu dengan yang lain. Beli kuas favorit dan formulasi favorit Anda. Untuk menebalkan bulu mata, pilih produk dengan kuas besar. Untuk memperpanjang bulu mata, pilih maskara dengan kuas yang bulunya berjarak lebar atau kuas sisir.
  • Lip gloss Gloss dimaksudkan untuk polesan tipis. Jadi tidak perlu memusingkan kadar pigmennya.
  • Lip liner Karena hanya sedikit produsen pensil di dunia, kebanyakan merk lip liner berasal dari pabrik yang sama. Boleh beli lipstick mahal tapi hemat lip liner.
  • Cat kuku Cat kuku mempunyai umur yang terbatas karena zat kimianya bisa terpisah dan cat menjadi kental.Beli merk drugstore yang harganya lebih murah dan dilapisi dengan top coat yang lebih mahal untuk mencegah cat kuku mengelupas
  • sumber tabloid Aura X/43

    Kosmetika berbahaya: Secara Kasat Mata Tidak Bisa Dibedakan

    (Berikut adalah hasil wawancara Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan DR. Husniah Rubiana Thamrin Akib,MS.,M.Kes.,SpFk., yang diterbitkan oleh koran Sinar Harapan tanggal 9 Oktober 2006 di jakarta)

    Kosmetika sudah menjadi kebutuhan kaum perempuan yang ingin tampil lebih cantik. Namun, kosmetika ternyata banyak yang mengandung bahan berbahaya bagi pemakaiannya.Wawancara SH dengan Kepala Badan POM Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib di jakarta, Minggu (8/10), yang baru saja mengeluarkan public warning tentang bahan kosmetika berbahaya akan menjabarkannya.

    Mengapa bahan-bahan berbahaya masih dipakai untuk kosmetika ?

    Bahan – bahan berbahaya sebenarnya dibutuhkan untuk produk di luar kesehatan. Merkuri atau air raksa dibutuhkan untuk memurnikan emas. Tensi meter juga memakai merkuri untuk indikator panas tubuh.

    Rhodamin B adalah pewarna yang dipakai untuk industri cat, tekstil, dan kertas. Tata niaganya termasuk izin penjualan bahan-bahan itu sudah diatur oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Termasuk yang diatur adalah formalin yang biasa dipakai pada industri kayu lapis. Bahan – bahan itu tidak boleh dijual di retail.
    Yang terjadi adalah beberapa oknum menyelewengkan dengan cara penyelundupan atau dijual di pasar bebas.

    Hidroquinon termasuk obat keras yang hanya dapat digunakan berdasar resep dokter kulit dan dipakai sebagai preparat cat rambut yang dipergunakan mewarnai rambut.

    Pada harmonisasi pasar obat ASEAN yang akan disepakati Januari 2008 nanti diputuskan bahan ini tidak boleh dipakai lagi walaupun oleh dokter: Kita akan buat selebaran kepada persatuan kosmetik agar pabrik industri kosmetik menggantikan hidroquinon dengan bahan lain.

    Mengapa bisa jadi kanker hati, kanker darah, ginjal ?

    Sebenarnya perempuan Indonesia sudah cantik dengan kulit kuning langsat, cokelat, dan rambut hitam. Tetapi perempuan Indonesia sering menjadi korban iklan, padahal berbahaya bagi kesehatan tubuhnya. Bahan berbahaya seperti merkuri memang bisa cepat memutihkan kulit. Kemudian bahan itu diserap kulit dan merusak saraf dan bahkan menyebabkan kanker.

    Bagaimana membedakan yang asli dan aman dengan yang palsu dan berbahaya ?

    Secara kasat mata tidak bisa dibedakan, tapi konsumen seharusnya melihat bahasa dalam kemasan. Periksa apakah ada nomor izin edarnya. Izin edar di pasar diberikan apabila sudah dievaluasi oleh BPOM. Kalau tidak ada, artinya ilegal.

    Tapi produsen bisa pasang sembarang nomor, padahal nomor palsu. Untuk lebih yakin, sebaiknya hubungi kami di Layanan Penggunaan Konsumen BPOM dengan nomor 021-4263333, silahkan tanya saja aman atau tidak, petugas akan menjawab langsung. Bisa juga buka situs BPOM di www.pom.go.id Semua kosmetik yang ada izin terdaftar di situ.

    Bagaimana dengan upaya hukum ?

    Kita harus merevisi Ordonansi Obat Keras warisan Belanda tahun 1949, karena pengadilan selalu merujuk pada peraturan ini. Para produsen dan pengedar selalu mendapatkan hukuman ringan dan tidak kapok. Negeri kita jadi ladang subur bagi mereka.

    Sangsi hanya 50 gulden atau kurungan percobaan 3 bulan saja. BPOM dan Depkes sudah mengajukan Revisi Undang – Undang Obat ini ke Departemen Hukum dan HAM dan dimasukkan dalam daftar antri di Program Legislasi nasional (prolegnas), setelah itu ke DPR

    sumber: B-POM

    Awas Kosmetika Berbahaya

    BANDUNG, (PR).-
    Sebanyak 1.002 item produk kosmetik ditarik dan dimusnahkan dari peredaran. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut ditemukannya 27 merek kosmetik di beberapa provinsi yang mengandung bahan-bahan yang dilarang. “Berdasarkan hasil pengawasan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) RI pada tahun 2005-2006 di beberapa propinsi, ditemukan 27 kosmetik yang mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kosmetik yakni merkuri (Hg), hidroquinon lebih dari 2%, zat warna rhodamin B, dan merah K.3,” tutur Kepala Badan POM RI, Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, dalam Public Warning No. KH. 00.01.3352 tentang kosmetik yang mengandung bahan dan zat warna yang dilarang yang diterima “PR”, Rabu (4/10).

    Menurut dia, penggunaan bahan tersebut dalam sediaan kosmetik dapat membahayakan kesehatan dan dilarang digunakan sebagaimana tercantum dalam Permenkes RI No. 455/ Menkes/ PER/V/1998 tentang bahan, zat warna, substratum, zat pengawet, dan tabir surya pada kosmetik, serta Keputusan Kepala Badan POM No. HK.00.05.4.1745 tentang kosmetik. “Untuk melindungi masyarakat dari risiko penggunaan bahan berbahaya tersebut, Badan POM telah menginstruksikan kepada produsen/distributor agar menarik produk tersebut dari peredaran dan memusnahkannya,” katanya.

    Merkuri/air raksa, kata dia, dilarang digunakan dalam kosmetik karena termasuk logam berat yang berbahaya, di mana dalam konsentrat kecil pun dapat bersifat racun. Pemakaian merkuri dalam krim pemutih dapat berdampak mulai dari perubahan warna kulit sampai pada timbulnya bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit.

    “Pemakaian dengan dosis tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin. Bahkan, paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare, kerusakan paru-paru, dan merupakan zat karsinogen (dapat menyebabkan kanker) pada manusia,” ungkapnya.

    Sedangkan hidroquinon, tambah dia, termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah, rasa terbakar. “Juga dapat menyebabkan kelainan pada ginjal, kanker darah, dan kanker sel hati,” ujarnya.

    Sementara, bahan pewarna merah K.10 (rhodamin B) dan merah K3 (CI Pigment Red 53: D&C Red No. 8:15585) merupakan zat warna sintetis yang pada umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil, atau tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogen. Sedang rhodamin dalam konsentrat tinggi, dapat menyebabkan kerusakan pada hati.

    Menurut dia, kegiatan memproduksi, mengimpor, dan atau mengedarkan produk yang tidak memenuhi standar, adalah melanggar UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00.

    “Masyarakat luas agar tidak membeli atau menggunakan kosmetik sebagaimana yang tercantum dalam daftar lampiran Public Warning. Masyarakat/ konsumen yang terkena risiko akibat penggunaan kosmetik tersebut, agar melaporkan kepada Badan POM RI di Jakarta, atau melalui Balai Besar/ Balai POM di seluruh Indonesia, Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) di no. Telf. 021-4263333,” ungkapnya.

    Hal yang sama dikemukakan oleh Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Konsumen Balai Besar POM di Bandung, Siti Nuraniyah. Menurut dia, masyarakat saat membeli kosmetik yang beredar di pasaran diharapkan memilih kosmetik yang sudah memakai label dan terdaftar di Depkes atau Badan POM. Hal tersebut diperlukan untuk menghindari digunakannya bahan-bahan berbahaya atau dilarang dalam sediaan kosmetik tersebut.

    “Tanda kosmetika yang sudah terdaftar, dapat dilihat pada label kemasannya. Untuk kosmetika produksi dalam negeri tandanya CD diikuti angka 10 digit. Sedang untuk kosmetika impor, tandanya CL diikuti pula angka 10 digit. Bila kosmetika tersebut sudah ada label dan terdaftar di Depkes atau Badan POM, maka tinggal cocok tidaknya kometika tersebut dengan pembeli,” ungkapnya.

    Sebaliknya, menurut dia, bila pada kosmetik tersebut tidak ada label dan tidak terdaftar di kedua badan tersebut, dikhawatirkan dalam pembuatannya kosmetik tersebut mengandung bahan-bahan berbahaya atau dilarang dipakai untuk kosmetika. Misalnya, mengandung merkuri (Hg) atau hidroquinon lebih dari dua persen.

    Begitu juga, kata dia, bila kosmetik tidak berlabel dan tidak terdaftar tersebut ada yang ditawarkan secara bebas di apotek, atau toko-toko obat, tanpa melalui resep dokter atau dokter spesialis kulit, masyarakat diharapkan untuk berhati-hati. Sebab, apotek tidak diperbolehkan memproduksi suatu kosmetik di luar resep dokter. “Kosmetik dibuat apotek berdasarkan permintaan dokter atau dokter spesialis,” ujarnya. (A-62/A-94)***

    sumber: Pikiran Rakyat

    Ditemukan 51 Jenis Kosmetik Berbahaya

    BANDUNG, (PR).-
    Masyarakat yang akan membeli atau menggunakan kosmetik diharapkan untuk berhati-hati. Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah ditemukan beredar di pasaran sebanyak 51 jenis kosmetik berbahaya.

    Menurut BPOM, 51 jenis kosmetik tersebut tidak terdaftar dan mengandung bahan berbahaya yang dilarang digunakan pada produksi kosmetik seperti bahan merkuri (Hg) dan merah K.10 (rhodamin B, C.I.Food Red No. 15, C.I 45170)

    “Penggunaan bahan yang dilarang tersebut akan merugikan kesehatan antara lain merusak kulit wajah berupa iritasi kulit, pengelupasan kulit, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, dan karsinogenik teratogenik pada pemakaian jangka tertentu,” ungkap Kepala Badan POM, H. Sampurna seperti tertulis dalam public warning No. KH.00.01.2.3984 tentang kosmetik mengandung bahan berbahaya, yang diterima “PR”, Jumat (19/11).

    Sampurno mengingatkan kepada pelaku usaha yang memproduksi, mengimpor, mengedarkan, dan menyimpan kosmetik ilegal serta mengandung bahan yang dilarang tersebut agar segera menghentikan kegiatan tersebut dan menarik produk tersebut dari peredaran.

    “Kegiatan memproduksi, mengimpor, dan mengedarkan produk yang tidak terdaftar, tidak memenuhi syarat mutu adalah melanggar UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang dapat diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp 2 miliar. Peringatan ini disampaikan untuk melindungi masyarakat dari efek yang merugikan sebagai akibat pemakaian produk tersebut,” katanya.

    Sementara itu, Dra. Euis Megawati dari Unit Layanan Pengaduan Konsumen Obat dan Makanan Balai Besar POM (BBPOM) Bandung ketika diminta pendapatnya seputar hal tersebut mengatakan bahwa di pasaran bebas pada bulan September 2004, pihaknya memang telah menemukan kosmetika Unilever yang tidak terdaftar baik di PT Unilever Indonesia maupun internasional.

    Euis juga menjelaskan bahwa baik merkuri maupun rhodamin B merupakan bahan yang berbahaya bila digunakan dalam pembuatan kosmetik. Misalnya, merkuri bisa berakibat buruk pada ginjal dan rhodamin B bisa menyebabkan gangguan fungsi hati/kanker hati. “Rhodamin B merupakan suatu zat warna sintetis yang sering digunakan sebagai zat warna pada kertas dan tekstil. Bila pemakaian rhodamin B dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan fungsi hati atau kanker hati. Rhodamin B dilarang digunakan dalam obat, makanan, dan kosmetik. Hal ini sesuai dengan Permenkes No. 239/Menkes/Per/V/85 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya,” jelasnya. (A-62)***

    sumber: Pikiran Rakyat

    Kosmetik Berbahaya: Mengandung Merkuri dan Rhodamin

    Jakarta, Kompas – Penggunaan merkuri, hidroquinon, dan zat pewarna rhodamin B pada produk kosmetik kini kian marak. Padahal, pemakaian bahan kimia itu dilarang oleh pemerintah untuk kosmetik karena membahayakan kesehatan. Karenanya, pemerintah menarik peredaran 1.002 item kosmetik dan memusnahkannya.

    “Untuk melindungi konsumen, kami telah menarik dan memusnahkan ribuan produk yang menggunakan bahan yang dilarang di Bengkulu, Denpasar, Kendari, Lampung, Padang, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, dan Jayapura,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Husniah Rubiana Thamrin Akib, Rabu (4/10).

    “Kami telah memberi teguran keras dan mengajukan pelakunya untuk diadili,” ujar Husniah. Sayangnya, penegakan hukum terhadap para pelaku, produsen maupun penjual, kosmetik yang tidak memenuhi syarat itu lemah. Dalam tiga tahun terakhir ini sedikitnya 154 kasus diajukan ke pengadilan dan umumnya hanya diberi sanksi pidana denda Rp 250.000 serta hukuman percobaan tiga bulan.

    Hasil sampling dan pengujian kosmetik tahun 2005 terhadap 10.896 sampel kosmetik menunjukkan, terdapat 124 sampel (1,24 persen) tidak memenuhi syarat, di antaranya produk ilegal atau tidak terdaftar, mengandung bahan-bahan dilarang, terutama merkuri dan rhodamin. Selain itu, ada kosmetik palsu yang diedarkan di pasaran.

    Menurut hasil pengawasan Badan POM pada tahun 2005 dan 2006 di beberapa provinsi, ditemukan 27 merek kosmetik yang mengandung merkuri (hg), hidroquinon lebih dari dua persen, serta zat warna rhodamin B dan merah K3. Kosmetik itu, di antaranya, Yen Lye YL II day cream, Arche pearl cream, Leeya Whitening Daily dan Night Use, krim Qubanyifushuang, dan lipstik merek Hengfang.

    “Sebagian besar kosmetik itu berasal dari China dan dijual di pasar-pasar tradisional maupun di sejumlah mal. Sasaran utama produk kosmetik yang tidak memenuhi syarat itu adalah kota-kota besar di luar Pulau Jawa karena pengawasannya kurang ketat,” kata Deputi Bidang Pengawasan Kosmetik, Obat Tradisional, dan Produk Komplemen Badan POM Ruslan Aspan.

    Penggunaan bahan itu dalam sediaan kosmetik bisa membahayakan kesehatan dan dilarang sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 445 Tahun 1998, dan dipertegas oleh keputusan Kepala Badan POM.

    Berbahaya bagi kesehatan

    Merkuri atau air raksa termasuk logam berat berbahaya, yang dalam konsentrasi kecil pun bersifat racun. Penggunaan merkuri dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi.

    “Pemakaian dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin,” kata Husniah menambahkan. Bahkan, paparan dalam jangka pendek dalam kadar tinggi bisa menimbulkan muntah-muntah, diare, kerusakan paru-paru, dan merupakan zat karsinogenik yang menyebabkan kanker.

    Sementara itu, hidroquinon termasuk obat keras yang hanya dapat dipakai berdasarkan resep dokter.

    Pemakaian obat keras tanpa resep dokter ini dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit jadi merah dan rasa terbakar, serta dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (nephropathy), kanker darah, dan kanker sel hati (hepatocelluler adenoma). (EVY)

    sumber: Kompas